Pemimpin yang Mendengar

Dua pekan ini saya menghabiskan work from home dengan aktivitas mewawancarai calon penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) angkatan 10. Salah satu tahap yang sangat penting. Tahap ini pula umumnya selalu ada pada tahap perekrutan dalam aktivitas seleksi apapun dan dimanapun. Seleksi karyawan di perusahaan atau lembaga biasanya juga akan ada tahap seleksi wawancara


Tahap wawancara ini secara umum bertujuan untuk menggali profil diri peserta wawancara. Juga mengkonfirmasi data yang telah ditunjukkan melalui isian atau data administrasi pada tahap pendaftaran. Sehingga pasca wawancara, tim seleksi akan mengetahui layak atau tidak, sesuai atau tidak, dan seterusnya. Hingga pada akhirnya ada beberapa peserta wawancara tertentu yang diterima menjadi bagian dari penerima program


Dari aktivitas wawancara yang selama ini dilakukan, setidaknya saya mendapat satu poin yang cukup penting dan menarik dalam konteks kepemimpinan. Apa itu?

Mendengar. Seorang pemimpin hendaknya memiliki kemampuan mendengar yang baik. Mendengar suara rakyat yang teriak-teriak karena kelaparan. Mendengar nasihat ulama yang memberi pandangan agama dalam persoalan berbangsa dan bernegara. Mendengar kajian ilmuwan yang memberi pandangan ilmiah atas beragam persoalan negeri

Tak cukup berhenti di situ, lantas mengolah 'hasil mendengar' (baca: informasi) yang didapatkan menjadi suatu program atau kebijakan. Jika informasi berupa masalah, lahirkanlah solusi. Jika informasi berupa ide atau gagasan, wujudkanlah inovasi. Jika informasi berupa nasihat, jadikanlah pengingat diri. Semua 'hasil mendengar' bermuara pada sebuah kebajikan dan kebijakan seorang pemimpin yang diterjemahkan untuk melayani masyarakat

Allah saja memiliki salah satu sifat Asmaul Husan, Maha Mendengar. Bahkan jika hanya sebuah niat dalam hati sekalipun, Allah mendengar niat tersebut. Jika niat itu baik, berbuah pahala. Jika niat itu buruk, Allah tak menghukumi dengan dosa, itu rahmat dariNya.

Rasulullah Muhammad SAW, seorang nabi dan rasul; seorang manusia yang dinyatakan oleh Michael H. Hart sebagai orang berpengaruh nomor satu di dunia sebagaimana ditulis dalam bukunya yang berjudul "The 100: A Ranking of The Most Influential Persons In History", semasa hidupnya selalu mendengar dan melihat keadaan ummatnya. Rasulullah pun beberapa kali mendengar ide dari para sahabat dalam momen penting saat perang. Salah satu diantaranya yang paling terkenal adalah saat perang Khandaq dimana kota Madinah telah terkepung. Bersaranlah Salman Al-Farisi tentang sebuah strategi berperang yang dikuasainya dan yang diterapkan di negara asalnya, Persia. Sebuah strategi yang tidak dikenal sebelumnya di negara Arab. Yakni strategi secara bertahan dengan membuat khandaq atau parit, yang tujuannya agar pasukan kaum kafir tidak mampu masuk ke dalam barisan kaum muslimin di kota Madinah kala itu. Atas izin Allah, kaum kafir tak berdaya menerobos parit yang telah dibuat mengelililingi kota Madinah

Ada juga kata-kata dari filsuf Yunani, Epictetus, yang berbunyi, "Kita punya dua telinga dan satu mulut, jadi kita harus mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara". Bahkan dalam sebuah buku berjudul "Human Communication" karangan Tubbs & Moss, pada bab terakhirnya membahas khusus tentang 'belajar mendengarkan' yang dikenal dengan istilah silent communication

Allah mencipta dua telinga dan satu mulut pasti bukan tanpa maksud. Jika kita menelaah ke dalam diri, bisa jadi memang kita diminta untuk lebih banyak mendengar daripada bicara. Atau lebih banyak mendengar sebelum bicara. Agar bicara kita tak berujung keburukan bagi orang yang mendengar

Terlebih bagi seorang pemimpin, jika satu kalimat (baca:kebijakan) berisi keburukan, seluruh orang yang dipimpinnya akan menerima dampak dari keburukan yang bersumber dari kata-katanya. Jika semakin banyak kebijakan yang tidak bijak, maka sengsaralah bangsa ini. Jadi, betapa penting seorang pemimpin memiliki kemampuan mendengar yang baik

Sudahkah para pemimpin di negeri ini menjadi pemimpin yang mendengar? 
Bagi seorang presiden, dia adalah pemimpin bagi negara
Bagi seorang gubernur, dia adalah pemimpin bagi wilayah provinsinya
Bagi seorang bupati/walikota, camat, lurah/kepala desa, ketua RW, ketua RT, dia adalah pemimpin bagi wilayahnya masing-masing
Bagi pimpinan perusahaan atau lembaga, dia adalah pemimpin bagi perusahaan atau lembaganya
Bagi seorang pimpinan bagian atau divisi, dia adalah pemimpin bagi bagian atau divisinya

Sudahkah masing-masing kita menjadi pemimpin yang mendengar?
Mari memulai setidaknya dari diri kita, karena sejatinya kita pun adalah pemimpin bagi diri kita. Agar jika kelak kita diamanahi, orang-orang yang berada pada lingkungan yang kita pimpin merasakan 'kehadiran' seorang pemimpin. Pemimpin yang mendengar.

Muhamad Saepudin
Pengelola Beasiswa Aktivis Nusantara
Divisi Sekolah Kepemimpinan Bangsa
Dompet Dhuafa Pendidikan
Share on Google Plus

About Muhamad Saepudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//