Pacaran di Bulan Ramadhan, Bolehkah? (Bagian 2-Akhir)

Oke. Kita sekarang sudah melewati bulan suci Ramadhan. Bahkan Syawal pun telah lewat. Daaan, saya belum memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada di tulisan bagian pertama yang berjudul
Pacaran di Bulan Ramadhan, Bolehkah? (Bagian 1). Saya jadi merasa berhutang, hehehe. By the way, mohon maaf lahir, batin, dan tulisan ya. Maaf-maafan kan enggak harus di bulan syawal saja toh.

Well, sebenarnya sudah ada yang komentar di postingan tersebut. Dan sepenuhnya memang demikian jawabanya. Yah, udah gitu aja? Ya, memang. 

Jadi begini, yang namanya pacaran itu tidak bergantung waktu, tempat, dan usia. Mau bulan bukan Ramadhan lah, siang hari lah, sudah dewasa lah. Pacaran tetap pacaran! Eeee, santai dong mas,hehe.

Saya santai kok. Tapi kalau sudah masalah yang prinsip, kita harus tegas pada diri sendiri. Kita harus fair dan objektif. Islam menegaskan bahwa janganlah sekali-kali mendekati zina. Coba kita pikir, mendekati saja tidak boleh, apalagi melakukan. Lalu, kalau saya sudah pacaran, harus bagaimana? Udah, putusin aja. Ciee, begitu kalau kata judul sebuah buku karya Ust. Felix Siauw. Meskipun saya belum pernah baca bukunya. 
Tapi serius, putusin pacar kamu. Karena banyak hal yang harus diperhitungkan dan dipikir baik-baik. Sekitar sebulan lalu, saya baca buku yang bagus dan recommended, judulnya "Pacarmu Belum Tentu Jodohmu" karya Muhammad Syafi'ie el-Bantanie. Bukunya keren banget, beneran. Ini beberapa hal yang coba saya kutip di tulisan ini, alasan lain selain alasan secara agama kenapa kita tidak boleh atau jangan pacaran. Salah satunya adalah "pacarmu bukan siapa-siapa bagimu, karena tidak ada ikatan pernikahan".

Yang lainnya? Silakan baca sendiri ya bukunya. Cuma 206 halaman. Ini penampakannya

Share on Google Plus

About Muhamad Saepudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//